Melampaui alasan, melewati batas akal

"Tempat paling aman - nyaman - untuk sebuah kapal adalah pelabuhan. Tapi bukan untuk itu - kenyamanan - sebuah kapal diciptakan," Paulo Coelho

"Ya, tempat paling aman - nyaman - untuk seorang anak adalah rumah. Tapi, bukan untuk itu ia terlahirkan : Lakukanlah perjalanan!"

Itu ibuku, satu-satunya alasan mengapa aku masih tetap hidup, meski begitu tak masuk akal. Mengapa?
Gambar itu terambil tahun 2011 bulan Desember akhir. Beliau datang saat wisuda adiknya, bibi saya yang kuliah S2 satu kampus dengan saya yang masih S1 - saat itu. Di bulan itu pula, 'dia' seseorang yang awal bulan November ini mengawali bahtera hidup baru, berpidato di mimbar menjadi wisudawati terbaik tahun itu, dengan predikat cumlaude. Aku membeli dua bunga mawar, satu untuk ibuku, dan satu - sebenarnya - untuknya. Tapi, nampaknya aku masih sedikit agak waras, tak mungkin ku berikan bunga itu pada wanita - yang bahkan, enggan menganggapku sebagai manusia.
Suatu saat, akan aku buktikan, bahwa ia, ibuku, sama sekali tak percuma melahirkan anaknya yang cacat ini. Meski sebenarnya, sebelum saat itu datang, beliau sudah melihatnya.
"Ibu percaya - bahkan sebelum saat itu datang,"

Mengapa ia satu-satunya alasan?

Saat SMA dulu, aku pernah memimpikan beliau dengan ayahku, wafat. Sepertiga malam itu aku terbangun dengan air mata yang tak mampu ku hentikan sedikitpun. Lalu, doa 'pengorbanan' pun ku panjatkan. "Ambil separuh usiaku untuk mereka berdua, Tuhan. Izinkan aku lebih dulu memasuki alam itu, dan akan ku buatkan mereka istana di sana ketika saatnya datang," siangnya, aku tanyakan pada beberapa sesepuh desa, apa makna mimpi itu. "Mereka berumur panjang," kata mereka : dan aku mengamini. Rangkaian mimpi tentang kematian dan kiamat saat masih SMA dulu, ditutup dengan mimpi itu. Berkorban adalah tindakan terhormat. Meski aku tak peduli dengan penghormatan manusia, rasanya diri ini tak berharga jika terlahir tidak untuk dikorbankan : meski 'hanya' untuk keluarga. Satu-satunya tempat kembali, yang tak boleh seorang anak pun memutuskan-melupakannya.

Ia satu-satunya alasan, mengapa aku harus pulang, meski 'di sana dan di sana' membutuhkanku. Tidak ada pertimbangan lain, mengapa aku tak tertarik berkarir 'di sana', mendapatkan istri orang 'sana', lalu tenar 'di sana' juga. Ah, ya, tenar, nyaman, mapan. Siapa yang tak ingin? Hanya orang tolol dengan otak idiot cacat yang tak tergiur dengan itu. Sangat mungkin, aku salah satunya.

Siapapun yang menjadi 'teman hidup-ku' kelak, ia pasti akan 'terbebani' dengan prinsip hidupku yang bodoh itu. Ia harus menjadi teman ibuku, menjadi istri terpujiku, dan menjadi 'ibu' masyarakat-ku. Tak peduli ia dari ujung dunia mana, tak soal ia berpenampilan seperti apa, berapa usianya, dari keluarga yang bagaimana. Aku tak terburu-buru, dan akan terus menemaninya, memahamkan kehidupanku yang lucu : seringkali tak masuk akal.

Kehidupan ini tak terjelaskan, tak masuk akal barangkali karena tiga hal. Pertama, akal kita tertutup. Kedua, akal kita penuh. Ketiga, barangkali kita punya otak, tapi tanpa wadah pengetahuan yang bernama akal. Sore itu, aku menyapa-Nya - melalui hati.

"Mengapa saya?" tanyaku.
"Karena hanya kau yang bisa," satu-satunya manusia idiot yang mau dikorbankan tanpa minta apa-apa.
"Aku tak menginginkan ini semua!"
"Kalau begitu kau pecundang!"
"Jika aku pecundang, mengapa tak Kau ambil saja. Turun, dan ambilah sendiri ini semua!"
"Bukankah Aku adalah engkau, dan engkau adalah aku dalam wujud yang berbeda?"
"Jika aku adalah Engkau, mengapa aku tak bisa mewujudkan apa yang aku inginkan?"
"Karena itu - keinginan - engkau, bukan Aku,"
"Bagaimana agar aku adalah Engkau saat aku menginginkan sesuatu?"
"Hilangkan keinginan,"
"Bagaimana bisa aku mewujudkan sesuatu tanpa aku menginginkannya?"
"Aku yang mewujudkannya,"
"Bagaimana?"
"Kembalilah pada-Ku. Di dunia ini, tidak ada apa-apa,"

Kembali? Apakah kita sedang pergi? Untuk apa? Ke mana?

Manusia nampaknya terlalu cepat berputus asa. Fa idza qutiyathishshotu fantashiru fil ardli wabtaghu min fadhlillah wadzkurullahi katsiron la'alakum turhamun. Lakukanlah perjalanan. Bukan hanya mencari karunia-Nya di bumi yang Ia hamparkan - agar ketika kau terluka, kau tak akan berjalan memutar dan menemui apa yang melukaimu itu lagi, tapi ke dalam, inner peace. Lakukanlah perjalanan ke dalam dirimu sendiri. Manusia tak akan bahagia, meski di dunia ia menemukan sesuatu yang ia sangat inginkan. Uang dan harta memudahkan hidup, tapi tak akan bisa membeli kebahagiaan. Teman hidup tak akan menjamin kebahagiaan, selama kondisi hati tak tenang. Tapi, kebahagiaan tak akan menampakan diri, selama rasa lelah belum menghampiri. Rasa lelah setelah melakukan perjalanan - yang tak nyaman. Rasa lelah yang menyingkirkan peran akal, lalu mengangkat, memberikan mahkota pada hati. Pemimpin diri, yang mengawali perjalanan, lalu menuntun jalan, kemudian membawa pulang dengan oleh-oleh kebijaksanaan : yang terpungut sepanjang jalan. Satu rahasia, hati akan selalu malu berada di depan, saat akal dan alasan tak merasa lelah. Saat diri belum mampu hidup melampaui alasan, melewati batas akal.

Post a Comment

0 Comments