Cinta kedua-ku

Ketahuilah, dimanapun aku berada
Aku doakan yang terbaik untukmu
Jika keajaiban terjadi dan aku kembali
Ku harap engkau terus mencintaiku
_Billy 'Expendables 2'_

Untuk Aliva,

Rasanya, ingin sekali aku kirimkan satu Surel, tentang apa yang ingin aku katakan dari dulu. Tapi, selalu saja, rasa takut menyentuh kehidupanmu begitu menekan. Sampai saat ini, alasan itu selalu menjerat jemariku untuk menulis. Tidak seperti komunikasi yang aku lakukan dengan orang lain. Melewati batas jenis, usia, kondisi, atau apapun, ketika keinginan menyapamu merasuk, batas 'saya dan kamu ini sebagai apa? Bahkan mungkin sebatas teman pun engkau tak menganggap' menakutiku.

Ada dua cinta yang begitu, katakan, membebani hidupku ini. Pertama, engkau. Kedua, orang-orang yang ada di 'penjagaan'-ku kini. Seperti pasak yang menancap dalam di hati, engkau dan mereka seperti pilihan yang tak harus ku pilih salah satunya. Mana yang harus aku lepas? Dari itu, aku lebih merelakanmu, pertama, aku tak ingin jika suatu saat engkau hidup bersamaku, jalan hidup ini terlalu berat. Kedua, satu kemustahilan aku mampu menomorduakan mereka. Maka, aku putuskan cinta kedua-ku itu menjadi yang utama.

Dulu, saat aku masih menulis buku perdana - yang akhirnya mungkin sudah engkau bakar, rasa cinta itu begitu menggetarkan. Tidak pernah aku rasakan, kedamaian melayani siapapun saat itu. Aktif dalam berbagai kegiatan sosial, kemahasiswaan, pergerakan. Gila, kata sebagian teman, ketika mereka melihat teman satunya ini seakan mampu mendengar keinginan hati mereka, bisikan hati mereka. Sedang sebenarnya, aku hanya membaca gerak kejiwaan mereka yang terwakilkan organ. Tidak sedikit perempuan yang 'hendak mendekat' ketika melihatku yang mesra tapi tanpa hasrat pada beberapa rekan organisasi. Karena itu, aku pakai penampilan kucel dan kumal. Bukan sebagai ciri khas, pertama agar mereka menjauh merasa jijik, kedua aku tak ingin perasaan itu tertukar dengan yang lain. Sampai saat inipun, perasaan itu masih mengetuk-ketuk, merayu pikiran untuk berdialog. Beberapa kali aku dekati satu dua wanita, kehendak hati ingin berkenalan, tapi ketika komunikasi terputus, ingatanku kembali padamu.

Saatnya nanti, akan datang seorang yang benar-benar tepat untukmu. Tidak harus lebih tampan dariku, tapi yang pasti ia dapat menenangkan hatimu. Tidak harus ia mengorbankan hidupnya untuk banyak orang, rasanya cukup korbankan dirinya untuk apa yang ia cinta. Tidak harus ia memiliki perenungan kehidupan yang begitu dalam, yang pasti ia mampu berpikir keras bagaimana agar engkau selalu bahagia. Seseorang itu pasti datang, karena aku tak akan pernah datang, kecuali, jika keajaiban terjadi : engkau memanggilku.

Suatu saat, engkau akan paham, bahwa keikhlasan adalah tahapan tertinggi derajat manusia. Seperti seorang ibu yang melepas anak-anak yang ia besarkan dengan jerih payah. Seorang anak perempuan tidak wajib taat pada ibu bapaknya lagi secara fisik, namun masih secara kejiwaan. Sebagai pengganti, suami ia yang wajib taat pada ibu bapaknya, fisik ataupun jiwanya. Aku bukan seorang manusia dalam derajat itu, dan tak mungkin aku sanggup. Tapi satu yang pasti, bahwa hidupku ini bukan suatu pilihan, melainkan keharusan. Di Jalan hidup ini, paksaan bukanlah sebuah alasan. Tapi, keikhlasan juga belum pasti menjadi tujuan. Tentu saja, sangat berat ketika membayangkan engkau bersanding dengan yang lain. Ada semacam perasaan goyah, seperti pasak yang terangkat, gunung yang terangkat dari bumi. Tapi, demikianlah hidup. Seseorang tidak harus bahagia dalam kehidupan individualnya. Ketika, semisal, aku tertakdir denganmu. Tapi, kehidupan ini harus terus terjalani, dengan atau tanpa kita bersama.

Fa, tidak pernah ada sebelumnya bayangan seseorang yang nyaris setiap hari menemani perasaan dan pikiranku. Meski kita terpaut jarak, meski kita terbebani masa lalu. Biarkan, Fa, biarkan masa lalu mengalir dalam genangannya. Itu akan menjadi tempat yang indah suatu saat di masa depan kita menengoknya. Terkadang, ada semacam firasat, bahwa engkau pun lelah menjalani hidup yang seperti itu. Keinginanmu menjadi ibu, wanita pekerja, juga melukis masa depan dengan karya. Aku mengerti, Fa, aku paham. Di sini, di tempatku berjalan, engkau masih bisa menjadi ibu dan pekerja keras. Tapi, aku tak mampu melihatmu kelelahan. Aku ingin engkau hidup nyaman. Aku ingin engkau hidup senang. Meski aku harus menjual ruh-ku demi kebahagiaanmu. Ketahuilah, Fa, aku selalu doakan yang terbaik untukmu. Agar engkau selalu bahagia.

*Untuk siapa saja di sana,

Post a Comment

0 Comments